Pages - Menu

Selasa, 14 Mei 2013

Teori Belajar Classical Conditioning

TEORI BELAJAR
CLASSICAL CONDITIONING


A. Pengantar

Suatu teori yang sangat terkenal dalam psikologi belajar adalah suatu teori yang dikemukakan oleh Ivan Petrovich Pavlov atau Pavlov. Mengapa dikatakan sangat terkenal, karena bila orang membicarakan masalah belajar tidak akan dapat terlepas dari teori atau pemikiran yang dikemukakan oleh Pavlov, terlepas dari setuju atau tidak terhadap teorinya. Pavlov mengadakan eksperimen-eksperimen berkaitan dengan masalah belajar.

Dalam sejarah psikologi eksperimen mula-mula dilakukan terbatas pada hal-hal yang berhubungan dengan penginderaan dan pengamatan, baru kemudian dilakukan pada peristiwa-peristiwa psikis yang lain. disamping itu mula-mula eksperimen dilakukan dengan hewan dengan segala pertimbangan, baru kemudian eksperimen dilakukan pada manusia.

Dalam menjelaskan mengenai teori yang diungkapkannya, Pavlov membedakan ektivitas organisme ke dalam dua kategori, yaitu :

  • Aktivitas yang bersifat refleksif, yaitu aktivitas organisme yang tidak disadari oleh organisme yang bersangkutan. Organisme membuat respon tanpa disadari sebagai reaksi terhadap stimulus yang mengenainya. Karena respon ini tidak dikendalikan oleh otak sebagai pusat kesadaran. Jalan yang ditempuh oleh stimulus sampai terjadinya respon lebih pendek bila dibandingkan dengan jarak yang ditempuh bila respon itu disadari.
  • Aktivitas yang disadari, yaitu aktivitas atas kesadaran organisme atau individu yang bersangkutan. Ini merupakan respon atas sadar kemauan sebagai suatu reaksi terhadap stimulus yang diterimanya. Ini berarti bahwa stimulus yang diterima oleh organisme itu sampai di pusat kesadaran, dan kemudian barulah terjadi suatu respon. Dengan demikian maka jalan yang ditempuh respon atas dasar kesadaran akan lebih panjang bila dibandingkan dengan jalan yang ditempuh oleh respon yang tidak disadari, atau respon yang refleksif.
Dalam lapangan psikologi khususnya psikologi belajar ada sementara ahli yang memandang reflek begitu penting, sehingga reflek dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting dalam aktivitas organisme atau manusia. Pendapat atau aliran ini yang sering disebut sebagai aliran psikologi reflek atau psycho reflexlogi yang dikemukakan oleh Pavlov, seorang ahli bangsa Rusia, yang mendapat hadiah Nobel dalam bidang kedokteran (medicine) pada tahun 1904.

Pada mulanya pemikiran dan eksperimen Pavlov hanya terbatas di Rusia, tetapi kemudian menyebar ke bagian dunia yang lain, yaitu ke Amerika Serikat terutama bagi para ahli yang menolak digunakannya metode intropeksi dalam lapangan psikologi. Pavlov berkeberatan terhadap penggunaan teori intropeksi dalam psikologi, karena dengan intropeksi tidak dapat diperoleh data yang objektif. Pavlov ingin merintis ke arah objective psychology, karena itu metode intropeksi tidak digunakannya. Ia mendasarkan eksperimennya atas dasar observed facts, pada suatu  keadaan yang benar-benar dapat diobservasinya. Eksperimen Pavlov ini banyak berpengaruh pada masalah belajar, pembentukan kebiasaan (habit information), dalam halmotif, dan juga dalam hal neurosis.

B. Beberapa Pengertian dari Pavlov

Pavlov mengadakan eksperimennya dengan menggunakan anjing sebagai binatang coba untuk mengetahui hubungan-hubungan antara conditioned stimulus (CS), unconditioned stimulus (UCS), conditioned response (CR), dan unconditioned response (UCR). CS merupakan rangsangan yang dapat mendatangkan respon hanya jika dipelajari, CR merupakan respon yang dipelajari; sedangkan UCS adalah rangsangan yang menimbulkan respon secara otomatis (respon alami) dan respon yang alami dan tidak dipelajari disebut UCR. Langkah awal eksperimen Pavlov, anjing dioperasi kelenjar air liurnya sehingga bila anjing mengeluarkan air liur, air liur tersebut dapat ditampung dan dapat diobservasi. Menurut Pavlov bila anjing mengeluarkan air liur karena melihat makanan, respon ini merupakan respon wajar, respon alami, respon yang refleksif, respon yang akan muncul secara dengan sendirinya. Respon ini disebut respon yang alami, respon yang tidak berkondisi atau unconditioned response (UCR), dan stimulusnya juga merupakan stimulus yang wajar atau stimulus yang alami, dan disebut sebagai unconditioned stimulus (UCS). Demikian juga kalau anjing menggerak-gerakkan telinganya bila mendengar bunyi, maka bunyi sebagai UCS dan gerakan telinga sebagai UCR.

Eksperimen Pavlov
  • Sebelum Eksperimen
Bunyi bel (CS) ----> (respon) gerakan telinga (tidak akurat)
Pemberian makanan (UCS) ---> (respon) air liur keluar (UCR)
  • Selama eksperimen
Bunyi bel diikuti pemberian makanan (CS) + UCS) ---> (respon) air liur keluar (UCR)
  • Sesudah eksperimen
Bunyi bel (CS) ---> (respon) air liur keluar
Pemberian makanan merupakan stimulus wajar (UCS) yang akan menimbulkan respon wajar (UCR), yaitu keluarnya air liur. Bunyi bel (CS) pada awalnya ketika didengar oleh anjing tidak memunculkan respon yang akurat (hanya sekedar menggerak-gerakkan telinga). Namun ketika kemudian bunyi bel (CS) selalu diikuti dengan pemberian makanan (UCS) maka air liur anjing keluar (UCR). Lama kelamaan setelah terjadinya conditioning penyajian bunyi bel (CS) tanpa diikuti pemberian makanan (UCS) dapat memunculkan respon keluarnya air liur (CR) pada anjing tersebut. Dalam hal ini proses conditioning telah terjadi, artinya anjing telah belajar bahwa bunyi bel sebagai pertanda bakal munculnya makanan, sehingga meskipun makanan belum nampak di depan matanya, ketika mendengar bunyi bel maka secara refleks ait liurnya akan keluar.

C. Metode Pavlov

Seperti telah dipaparkan di depan dalam eksperimennya Pavlov menggunakan anjing sebagai binatang coba, yang dioperasi sedemikian rupa, hingga bila air liurnya keluar dapat ditampung dan diamati, dan banyaknya air liur dapat diukur dengan tepat.

Untuk menimbulkan repons berkondisi ditempuh dengan jalan memberikan stimulus berkondisi berbarengan atau sebelum diberikan stimulus yang wajar. Pemberian-pemberian stimulus tersebut dilakukan berulangkali, hingga akhirnya akan terbentuk respons berkondisi, yaitu timbulnya respons (mengeluarkan air liur) sekalipun stimulus yang wajar (makanan) tidak disertakan.

Seperti telah dikemukakan oleh Pavlov, respons berkondisi akan dapat terbentuk, bila stimulus berkondisi diberikan atau berbarengan dengan stimulus yang wajar. Bila stimulus berkondisi itu diberikan setelah stimulus yang wajar, maka respons berkondisi tidak akan terbentuk. Eksperimen tersebut juga diperkuat dengan hasil eksperimen Krestovnikov yang mencoba dengan prosedur memberikan stimulus bekondisi setelah stimulus yang wajar diberikan dengan 1000 kali percobaan, ternyata tidak terbentuk respons berkondisi.

Dengan demikian terbentuknya salah satu hukum dari Pavlov, yaitu untuk membentuk atau menimbulkan repons berkondisi (CR) ditempuh dengan cara memberikan stimulus berkondisi (CS) berulang kali sebelum atau berbarengan dengan pemberian stimulus yang wajar (UCS). Mengapa hal tersebut terjadi ?

Salah satu eksperimen Pavlov ialah dengan menggunakan bunyi bel sebagai stimulus berkondisi. Respons berkondisi dapat terbentuk karena biasanya kalau terdengar bunyi bel, maka pasti diberikan makanan. Dengan demikian maka bunyi bel itu merupakan pertanda yang mendahului atau fore signal akan datangnya makanan yang merupakan reinforecement atau penguat, dan pada anjing akan terbentuk kebiasaan (habit formation), sehingga pada suatu waktu ada bunyi bel sekalipun tidak disertai makanan (UCS), air liur tetap keluar.

D. Proses Diferensiasi dan Generalisasi

Eksperimen Pavlov kemudian ditingkatkan, yaitu dengan menyajikan stimulus bervariasi, stimulus satu berbeda dengan stimulus yang lain. Apakah dengan stimulus yang berbeda-beda itu hewan coba dapat membedakan mana stimulus yang disertai reinfocement dan mana stimulus yang tanpa reinforcement. Salah satu eksperimennya berbentuk digunakannya dua macam lampu, yaitu lampu berwarna merah yang disertai adanya makanan sebagai stimulus wajar atau sebagai reinforcement, dan lampu hijau yang tidak disertai adanya makanan. Stimulus tersebut diberikan berulang kali kepada anjing sebagai hewan coba. Dari eksperimen tersebut terbukti bahwa anjing akan mengeluarkan air liur bila melihat lampu merah sekalipun tidak ada makanan, karena sudah terbentuk repons bekondisi (CR), sedangkan bila melihat lampu hijau, anjing tidak akan mengeluarkan air liur, karena atas dasar pengalaman dengan munculnya lampu hijau tidak akan ada makanan.

Eksperimen bentuk lain Pavlov menggunakan sinar dengan bentuk lingkaran dan sinar yang berbentuk elips. Bila sinar yang berbentuk lingkaran disajikan disertai adanya makanan sebagai reinforcement, tetapi kalau disajikan sinar dengan bentuk elips, makanan tidak disajikan. Permasalahannya ialah apakah anjing dapat membedakan antara kedua macam stimulus-stimulus tersebut. Ternyata bahwa anjing sebagai hewan coba dapat membedakannya. Pada waktu nampak sinar yang berbentuk lingkaran, anjing mengeluarkan air liur, sedangkan kalau sinar berbentuk elips anjing tetap tidak mengeluarkan air liur, karena atas dasar pengalaman yang berbentuk elips tidak disertai adanya makanan.

Dari eksperimen tersebut, maka ditariklah kesimpulan sebagai salah satu hukum yang lain dari Pavlov, yaitu akan terjadi kondisioning yang selektif berdasarkan atas reinforcement yang selektif. Anjing dapat membedakan stimulus yang diikuti reinforcement nya dengan stimulus yang tanpa reinforcement. Eksperiment Pavlov dengan menggunakan sinar yang berbentuk lingkaran dan elips tersebut dilanjutkan, yaitu ingin mengetahui sampai sejauh mana anjing dapat membedakan stimulus dengan reinforcement dan stimulus tanpa reinforcement. Eksperimen tersebut ditempuh dengan secara perlahan menuju kebentuk lingkaran. Sampai pada suatu tingkatan pengubahan elips tersebut hampir menyerupai lingkaran (perbandingan 8:9), anjing tidak sanggup lagi membedakan antara lingkaran dan elips. Anjing, pada tingkatan ini menunjukkan perilaku yang neurotik, antara lain dengna menunjukkan perilaku meloncat-loncat, menyalak, menggigit-gigit, dan meronta-ronta, ke semuanya ini menunjukkan tanda-tanda neurotis pada anjing tersebut. Anjing mengalami konflik dalam dirinya antara stimulus yang disertai reinforcement (lingkaran) dengan stimulus tanpa reinforcement (elips).

E. Reinforcement yang Ditunda

Salah satu bentuk eksperimen ialah dengan cara pemberian makanan (UCS) yang merupakan reinforment dengan berbagai macam tanggung waktu setelah adanya stimulus berkondisi (CS). Cara pemberian reinforcement itu bisa bervariasi. Dari percobaan tersebut diperoleh hasil bahwa keluarnya air liur, sesuai atau senada dengan munculnya makanan sebagai reinforcement yang mengikuti stimulus yang berkondisi (CS). Dengan hasil tersebut muncul hukum yang lain dari Pavlov, yaitu munculnya respons berkondisi (CS) akan tertunda.

F. Eksperimental Extinction

Bila repons berkondisi telah terbentuk, apakah hal tersebut dapat dihilangkan hingga kembali ke keadaan yang semula. Menghadapi persoalan tersebut Pavlov mengadakan eksperimen dengan cara sebagai berikut. Setelah respons berkondisi terbentuk, maka kepada anjing sebagai hewan coba diberikan stimulus berkondisi (CS) secara berulang-ulang, tetapi tidak diikuti dengan makanan sebagai reinforcement, sehingga pada akhirnya terbentuklah pada anjing bahwa anjing tidak mengeluarkan air liur bila mendengar bunyi bel. Ini berarti anjing kembali ke keadaan semula, yaitu pada keadaan sebelum terjadinya repons berkondisi. Keadaan ini yang sering disebut sebagai eksperimental extinction. Tetapi bila dalam keadaan ini kemudian sekali waktu diberikan lagi reinforcement, maka akan terjadi respons berkondisi lagi dengan cepat, dan ini yang disebut sebagai spontaneous recovery. Dari eksperimen ini kemudian ditarik salah satu hukum lagi, yaitu respons berkondisi (CR) yang telah terbentuk dapat hilang kembali, dengan cara memberikan stimulus berkondisi secara berulang kali tanpa disertai makanan sebagai reinforcement.

G. Eksperimen Pada Manusia

John Broadus Watson (1878-1958) mengadakan eksperimen mengenai kondisioning ini pada anak-anak, sebagai akibat pengaruh Pavlov. Salah satu eksperimennya ialah dengan menggunakan bayi sebagai objek coba yang diberikan minuman dari botol. Sebelum minuman botol diberikan lebih dahulu dibunyikan bel. Eksperimen ini seperti yang dilaksanakan oleh Pavlop dengan anjing sebagai hewan cobanya. langkah Watson tersebut sampai pada kesimpulan bahwa pada bayi terbentuk respons berkondisi, yaitu dengan bel berbunyi, sekalipun tidak diberi botol bayi tetap menunjukkan gerakan mulut seperti mengenyut dot dari botol.

Salah satu eksperimen Watson yang paling terkenal ialah eksperimennya dengan Albert, yaitu anak yang berumur 11 bulan. Watson ingin memberikan gambaran bagaimana refleks emosional menjadi terkondisi dengan stimulus yang netral. Watson dan Rosalie Rayner (istrinya) mengadakan eskperimen dengan albert tersebut dengan tikus putih dan gong beserta pemukulnya. Pada permulaan eksperimen Albert tidak takut pada tikus putih tersebut. Pada suatu waktu, sewaktu Albert akan memegang tikus tersebut dibunyikan gong dengan keras. Dengan suara keras tersebut Albert mengalami rasa takut. Keadaan tersebut diulangi beberapa kali, hingga akhirnya terbentuklah rasa takut pada tikus putih tersebut pada diri albert, demikian pula dengan objek-objek lain, misal dengan kelinci, dan anjing. Atas dasar eksperimen tersebut Watson berpendapat bahwa reaksi emosional dapat dibentuk dengan kondisioning. Rasa takut tersebut dapat dikembalikan lagi ke keadaan yang semula dengan cara menghadirkan tikus tersebut dengan disertai situasi yang menyenangkan.

Sumber : Dra. Nefi Darmayanti, M.Si, Psikologi Belajar, Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar