Pages - Menu

Sabtu, 13 April 2013

Kepribadian dan Emosi


MAKALAH KEPRIBADIAN DAN EMOSI

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Perilaku organisasi merupakan sebuah kajian yang mempelajari tentang tingkah laku manusia dimulai dari tingkah laku individu, kelompok, dan tingkah laku ketika berorganisasi, serta pengaruh perilaku individu terhadap kegiatan organisasi dimana mereka melakukan dan bergabung dalam organisasi tersebut.

Dalam upaya pencapaian tujuan organisasi, perilaku organisasi dapat memainkan peran pentingnya dalam perkembangan organisasi dengan melihat sudut pandang tingkah laku individu atau kelompok yang dapat memberikan pengaruh terhadap apa yang kita sebut dengan kinerja organisasi. Salah satu yang berkaitan dengan perilaku organisasi adalah kepribadian dan emosi. 

Di dalam sebuah organisasi, kepribadian dan emosi akan sangat mempengaruhi individu dalam menjalankan tugasnya (kinerja). Tanpa disadari, faktor kepribadian dan emosi menjadi salah satu penentu keberhasilan kinerja yang dicapai oleh suatu organisasi. Maka dari itu, sangat diperlukan bagi seseorang untuk tahu dan mengerti tentang kepribadian dan emosi, baik dari segi pengertian, ciri-ciri, dan bagian-bagian lainnya. Pemakalah mengharapkan setelah membaca karya tulis ini, selanjutnya pembaca mampu menguasai materi tentang kepribadian dan emosi, dan diharapkan juga pembaca akan dapat menempatkan dirinya di dalam sebuah organisasi. Karena, keberhasilan sebuah organisasi akan ditentukan oleh setiap individu di dalam organisasi itu sendiri.

B.     Rumusan Masalah
1.  Apa defenisi kepribadian, ciri-ciri, perkembangan kepribadian, dan tipe-tipe kepribadian serta pengaruhnya terhadap organisasi?
2.     Apa defenisi emosi, macam-macam emosi, bentuk-bentuk emosi dan pengaruhnya terhadap individu?

C.    Tujuan Pembahasan
1.   Untuk mengetahui tentang defenisi kepribadian, ciri-ciri, perkembangan kepribadian, dan tipe-tipe kepribadian serta pengaruhnya terhadap organisasi.
2.  Untuk mengetahui defenisi emosi, macam-macam emosi, bentuk-bentuk emosi dan pengaruhnya terhadap individu.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kepribadian
1.      Pengertian Kepribadian

Kata kepribadian atau personality dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Yunani kuno proposan atau persona yang artinya topeng yang biasa dipakai artis dalam teater. Para artis itu bertingkah laku sesuai dengan ekspresi topeng yang dipakainya, seolah-olah topeng itu mewakili ciri kepribadian tertentu. Konsep awal dari pengertian personality adalah tingkah laku yang ditampakkan ke lingkungan sosial, kesan mengenal diri yang diinginkan agar dapat ditangkap oleh lingkungan sosial. Dalam istilah ilmiah pengertiannya berkembang menjadi lebih bersifat internal, yaitu sesuatu yang relatif permanen menuntun, mengarahkan, dan mengorganisir aktivitas manusia.[1]

Terdapat beberapa pengertian berbeda tentang kepribadian yang dikemukakan oleh para pakar kepribadian. Masing-masing para pakar kepribadian membuat definisi sendiri-sendiri sesuai dengan paradigma yang mereka yakini dan fokus analisis dari teori yang mereka kembangkan. Berikut beberapa contoh definisi kepribadian[2] :
a.    Nilai sebagai stimulus sosial, kemampuan menampilkan diri secara mengesankan (Hilgard dan Marquis).
b. Kehidupan seseorang secara keseluruhan, individual, unik, usaha mencapai tujuan, kemampuan bertahan dan membuka diri, kemampuan memperoleh pengalaman (Stern).
c. Organisasi dinamik dalam sistem psikofisiologis seseorang yang menentukan model penyesuaiannya yang unik dengan lingkungannya (Allport).
d.     Pola trait-trait yang unik dari seseorang (Guilford).
e.   Seluruh karakteristik seseorang atau sifat umum banyak orang yang mengakibatkan pola yang menetap dalam merespon suatu situasi (Pervin).
f.    Seperangkat karakteristik dan kecenderungan yang stabil yang menentukan keumuman dan perbedaan tingkah laku psikologik (verfikir, merasa, dan gerakan) dari seseorang dalam waktu yang panjang dan tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai hasil dari tekanan sosial dan tekanan biologik saat iu (Maddy dan Burt).
g.  Suatu lembaga yang mengatur organ tubuh yang sejak lahir sampai mati tidak pernah berhenti terlibat dalam pengubahan kegiatan fungsional (Murray).
h.  Pola khas dan fikiran, perasaan dan tingkah laku yang membedakan orang yang satu dengan lainnya dan tidak berubah lintas waktu dan situasi (Phares).

Kepribadian atau personality pada dasarnya merupakan karakteristik psikologis dan perilaku individu yang sifatnya relatif permanen (karena terbentuk oleh waktu yang cukup lama) yang membedakan satu individu dengan individu lainnya. Dalam komteks organisasi, seorang manajer atau pemimpin organisasi dituntut untuk dapat memahami kepribadian dari setiap individu agar manajer atau pemimpin organisasi bisa mengetahui bagaimana cara terbaik untuk menghadapi mereka. Memahami kepribadian adalah termasuk hal mendasar yang perlu dipahami oleh para manajer atau pemimpin organisasi.[3]

2.      Ciri-Ciri Kepribadian

Dari penjelasan definisi yang sudah dikemukakan sebelumnya, ada lima persamaan yang menjadi ciri dari kepribadian, yaitu[4] :
a.     Kepribadian bersifat umum, kepribadian menunjuk kepada sifat umum seseorang, fikiran, kegiatan dan perasaan yang berpengaruh secara sistemik terhadap seluruh tingkah lakunya.
b.  Kepribadian bersifat khas, kepribadian dipakai untuk menjelaskan sifat individu yang membedakan dia dengan orang lain, seperti tanda tangan atau sidik jari, bagaimana individu berbeda dengan individu lainnya.
c.   Kepribadian berjangka lama, kepribadian dipakai untuk menggambarkan sifat individu yang awet, tidak mudah berubah sepanjang hayat. Kalau terjadi perubahan biasanya bersifat  bertahap atau akibat merespon sesuatu kejadian yang luar biasa.
d.  Kepribadian bersifat kesatuan, kepribadian dipakai untuk memandang diri sebagai unit tunggal, struktur atau organisasi internal dipotetik yang membentuk kesatuan dan konsisten.
e.  Kepribadian dapat berfungsi baik atau berfuungsi buruk, kepribadian adalah cara bagaimana orang berada di dunia. Apakah dia tampil dalam tampilan yang baik, kepribadiannya sehat dan kuat. Atau tampil sebagai burung yang lumpuh yang berarti kepribadiannya menyimpang atau lemah. 

Ciri kepribadian sering dipakai untuk menjelaskan bagaimana dan mengapa orang senang dan mengapa susah, berhasil atau gagal, berfungsi penuh atau berfungsi sekadarnya.

3.      Perkembangan Kepribadian
Kepribadian seseorang seperti yang kita lihat sekarang, tidaklah dibawa sejak lahir, Sigmund Freud dalam Abu Bakar M. Luddin, mengatakan kepribadian telah terbentuk pada akhir tahun kelima dari kelahiran dan perkembangan selanjutnya merupakan penghalusan struktur dasar itu.[5]

Allport dalam buku yang sama, juga menegaskan bahwa individu dari lahir mengalami perubahan-perubahan yang penting. Anak yang baru lahir dilengkapi keturunan-keturunan, dorongan-dorongan, nafsu dan reflek mengisap, merekam gerakan namun belum punya sifat dan kepribadian. Memiliki potensi fisik dan tempramen yang aktualisasinya tergantung kepada perjembangan dan kematangan. Melalui aktivitas umum yang menjadi sumber tingkah laku yang bermotif. Sifat-sifat khas seorang anak baru dapat dilihat pada umur 2 tahun. Perkembangan itu melewati garis-garis yang berganda. Bermacam-macam mekanisme atau prinsip-prinsip dipakai untuk mendeskripsikan mengenai perubahan-perubahan sejak kanak-kanak sampai dewasa.[6]

Manusia adalah organisme yang pada waktu lainnya merupakan makhluk biologis, lalu berubah menjadi individu yang egonya selalu berkembang, struktur sifat-sifatnya meluas dan merupakan inti dari tujuan-tujuan dan aspirasi masa depan. Pada orang dewasa faktor yang menentukan tingkah laku adalah trait yang terorganisasikan dan selaras. Trait ini timbul dalam berbagai cara dari perlengkapan-perlengkapan yang dimiliki. Tujuan yang akan dicapai serta aspirasi-aspirasi masa depan merupakan motif utama dalam perubahan kepribadian. Pribadi yang telah dewasa itu pada dasarnya harus memiliki hal-hal sebagai berikut[7] :
a.   Extension of self, yaitu hidupnya tidak harus terikat secara sempit kepada kegiatan-kegiatan yang erat hubungannya dengan kebutuhan serta kewajiban yang langsung, dia harus dapat mengambil bagian dan menikmati bermacam-macam kegiatan. Suatu hal yang penting dari extension of self ialah proyeksi ke masa depan melalui perencanaan dan harapan.
b.  Self objectification yang terdiri dari komponen humor dan insight, insight adalah kecakapan hidup untuk mengerti dirinya, sedangkan humor tidak hanya berarti kecakapan untuk mendapatkan kesenangan dan hal yang menertawakan saja, melainkan juga kecakapan untuk mempertahankan hubungan positif dengan dirinya sendiri dan objek-objek yang disenangi serta menyadari adanya ketidakselarasan dalam hal ini.
c.  Falsafah hidup, maksudnya individu itu harus dapat objektif dan menikmati kejadian-kejadian dalam hidupnya, juga mesti ada latar belakang yang mendasari segala sesuatu yang dikerjakannya yang dapat memberinya arti dan tujuan. Religi merupakan salah satu hal yang penting dalam falsafah hidup seseorang.

Kepribadian seseorang tumbuh dan berkembang melalui proses sebagai berikut[8] :
a.   Individualisme, yakni suatu proses menjadi manusia, perubahan masa bayi yang sangat bergantung menjadi tidak bergantung. Proses ini membantu manusia memperluas kesadaran identitas pribadinya, penerimaan dirim kepastian akan dirinya.
b. Sosialisasi, yaitu suatu proses dinamis dimana individu mempelajari keterampilan-keterampilan, informasi dan pemahaman kebutuhan, berhubungan secara efektif dengan orang lain. Proses sosialisasi berlangsung dengan mementingkan hubungan antara individu dalam kelompok.
c.   Integrasi, yaitu suatu proses yang mengkombinasikan, mengorganisir, dan mengerjakan bersama bagian-bagian yang berbeda atau sifat khas dari seseorang individu menuju ke tingkat yang lebih tinggi sebagai suatu keseluruhan yang kompleks.

4.      Perbedaan Kepribadian

Menurut William Marston, tipe kepribadian seseorang dapat diketahui berdasarkan observasi terhadap pola perilaku yang ditampilkannya. Tipe kepribadian tersebut terdiri atas tipe dominant, inspiring, supportive, dan  cautious. Rincian karakteristik dari tiap-tiap tipe kepribadian tersebut adalah sebagai berikut[9] :

A.    Tipe “Dominant”
Kata-kata penjelas
Dominan, pengatur, penuntut/banyak permintaan, tegas, tekun, pelaku.
Pola pikir
Lakukan! Wujudkan! Raih kemenangan! Hasil!
Hal yang disukai
Kegiatan, kompetisi, kerja keras, melakukan sesuatu, tantangan, mendapatkan hasil, menjadi pimpinan, menyelesaikan tugas-tugas.
Mereka adalah orang yang
Berorientasi pada tujuan, tidak mudah puas, percaya diri, tabah, tekun, menyadari pentingya prestasi.
Dimotivasi oleh
Tantangan, pilihan, pengendalian.
Lingkungan yang dibutuhkan
Kebebasan, kewenangan, kegiatan yang bervariasi, kesempatan berkembang.
Gaya komunikasi
Komunikasi lugas/terus terang.
Kelemahan
Kurang sensitif terhadap orang lain, kurang bisa santai, kurang sabar.
B.     Tipe “Inspiring”
Kata-kata penjelas
Bersemangat, berpengaruh, penting, interaktif, mngesankan, berminat pada hubungan dengan orang lain.
Pola pikir
Jadi bintang pertunjukan, bersenang-senang, dan gembira!
Hal yang disukai
Mempengaruhi orang lain, rencana jangka pendek, membuat orang tertawa, melakukan banyak hal/kegiatan, berbincang-bincang dengan orang lain, prestise, dipandang penting.
Mereka adalah orang yang
Banyak bicara, pandai memulai hubungan, menyenangkan, cenderung membesar-besarkan, mudah gembira, senang menonton.
Dimotivasi oleh
Penghargaan, persetujuan, popularitas.
Lingkungan yang dibutuhkan
Prestise, hubungan persahabatan, kesempatan untuk mempengaruhi orang lain, kesempatan untuk mengilhami orang lain, kesempatan untuk mengemukakan ide.
Gaya komunikasi
Bersabat dan komunikasi informal.
Kelemahan
Kurang bisa mengelola waktu, kurang realistis, kurang mendengarkan orang lain, kurang memperhatikan penyelesaian tugas.
C.    Tipe “Supportive”
Kata-kata penjelas
Pendukung, kokoh, tabah/teguh hati, ramah, peka, sentimentil.
Pola pikir
Netral. Bergaullah dengan semua orang. Tidak ada konflik.
Hal yang disukai
Perdamaian, harmoni, ketentraman hati, kelompok persahabatan, kerja tim, menolong orang lain, kerjasama.
Mereka adalah orang yang
Berorientasi kelompok, sahabat, koorperatif, teman setia, peka terhadap kebutuhan orang lain, mau memahami dan menerima orang lain.
Dimotivasi oleh
Keamanan, penghargaan, kepastian/jaminan.
Lingkungan yang dibutuhkan
Wilayah khusus, identifikasi dengan kelompok, pola kerja yang mapan, situasi yang stabil, lingkungan yang konsisten.
Gaya komunikasi
Komunkasi yang hangat, terbuka, tulus.
Kelemahan
Sulit bila harus menghadapi perubahan, tidak mampu mengatakan “Tidak”, sulit bertindak bebas/independen.
D.    Tipe “Cautious”
Kata-kata penjelas
Hati-hati, penuh perhitungan, mampu, konsisten, pemikir, dan teliti.
Pola pikir
Kerjakan sesuatu dengan benar dan sempurna. Apa rencanya? Sudahkan mempertimbangkan segala sesuatunya? Apa tujuan sesungguhnya? Mengapa?
Hal yang disukai
Konsistensi, kerja hebat, mengerjakan dengan tepat, informasi/data, nilai, kualitas, segala sesuatu berjalan dengan benar, ada perencanaan, prosedur, kejujuran.
Mereka adalah orang yang
Berorientasi pada prosedur, mengabdikan diri pada tugas, terfokus pada detail, logis, akurat, menaruh rasa hormat.
Dimotivasi oleh
Jawaban berkualitas, keunggulan, nilai.
Gaya komunikasi
Komunikasi yang logis, tepat, dan detail.
Kelemahan
Analisis berlebihan, kurang mampu menepati deadline, perfeksionis, kurang mampu mengekspresikan perasaan, kurang memperhatikan pentingnya perasaan orang lain.

5.      Tipe Kepribadian
Renee Baron dan Elizabeth Wagele dalam Marganti Sit, menyatakan ada sembilan tipe kepribadian manusia, yaitu[10] :
a.   Perfeksionis. Orang dengan tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk hidup dengan benar, memperbaiki diri sendiri dan orang lain dan menghindari marah.
b. Penolong. Tipe kedua dimotivasi oleh kebutuhan untuk dicintai dan dihargai, mengekspresikan peranan positif pada orang lain, dan menghindari kesan membutuhkan.
c.     Pengejar prestasi. Para pengejar prestasi termotivasi oleh kebutuhan untuk menjadi orang yang produktif, meraih kesuksesan, dan terhindar dari kegagalan.
d.      Romantis. Orang tipe romantis termotivasi oleh kebutuhan untuk memahami perasaan diri sendiri serta dipahami orang lain, menemukan makna hidup, dan menghiindari citra diri yang biasa-biasa saja.
e.     Pengamat. Orang tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk mengetahui segala sesuatu dan alam semesta, merasa cukup dengan diri sendiri dan menjaga jarak, serta menghindari kesan bodoh atau tidak memiliki jawaban.
f.   Pencemas. Orang tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan, merasa diperhatikan, dan terhindar dari kesan pemberontak.
g.      Petualang. Tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk merasa bahagia serta merencanakan hal-hal yang menyenangkan, memberi sumbangsih pada dunia, dan terhindar dari derita dan dukacita.
h.      Pejuang. Tipe pejuang termotivasi oleh kebutuhan untuk dapat mengandalkan diri sendiri, kuat, memberi pengaruh pada dunia, dan terhindar dari kesan lemah.
i.       Pendamai. Para pendamai termotivasi oleh kebutuhan untuk menjaga kedamaian, menyatu dengan orang lain dan menghindari politik.

B.     Emosi
1.      Pengertian Emosi

Perasaan atau emosi merupakan gejala afektif pada kejiwaan manusia yang dihayati secara subjektif, yang pada umumnya bersentuhan secara langsung dengan gejala pengenalan. Dalam realitas terdalam, perasaan atau emosi jiwa tidak bersifat tetap, baik dalam bentuknya maupun kadarnya. Sakit dengan pedih, cinta dengan sayang, adalah bentuk perasaan yang berbeda dan memiliki ukuran kedalaman emosi yang berbeda. Perbedaan itu dilatarbelakangi oleh kepribadian dan keadaan hati seseorang.[11]

Menurut Daniel Goleman dalam Muhammad Ali dan Muhammad Asrori, emosi dimaknai sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Chaplin dalam buku yang sama mendefinisikan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku.[12]

Istilah emosi kurang lebih dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang muncul dari organisme manusia. Emosi adalah suatu pengalaman yang sadar yang mempengaruhi kegiatan jasmani, yang menghasilkan penginderaan organis dan kenstetis dan ekspresi yang menampak, serta dorongan-dorongan dan suasana perasaan yang kuat. Pada hakikatnya, suatu emosi adalah suatu pengalaman yang sadar, kompleks, dan meliputi unsur perasaan,yang mengikuti keadaan fisiologis dan mental, yang muncul serta penyesuaian batiniha, dan yang mengekspresikan dirinya dalam tingkah laku yang menampak. Emosi tidak sama dengan dorongan atau keinginan atau kehendak atau pun motif. Tetapi terdapat suatu hubungan sebab akibat antara emosi dengan hal tersebut. Fungsi suatu emosi meliputi perubahan fisiologis. Tingkah laku yang menampak, perasaan-perasaan dan tekanan-tekanan.[13]

2.      Teori-teori Proses Terjadinya Emosi

a.      Teori James-Lange
Teori Jamer-Lange emosi berpendapat  bahwa sebuah peristiwa menyebabkan rangsangan fisiologis terlebih dahulu dan kemudian seseorang menafsirkan rangsangan ini. Setelah interpretasi dari rangsangan terjadi seseorang mengalami emosi. Contohnya, seseorang berhalan menyusuri lorong gelap larut malam dan dia mendengarkans esuatu. Ada suara jejak di belakangnya dan dia mulai gemetar, jantungnya berdetak lebih cepat, dan napasnya semakin dalam. Dia melihat perubahan-perubahan fisiologis dan menafsirkannya sebagai situasi yang menakutkan kemudian, maka dia mengalami rasa takut.[14]

b.      Teori Meriam Bard
Teori Meriam Bard berpendapat bahwa seseorang mengalami rangsangan fisioogis dan emosional pada saat yang sama, tetapi tidak melibatkan peran pikiran atau perilaku lahiriah. Contoh: ketika seseorang berjalan menyusuri lorang gelap larut malam dan dai mendengarkan sesuatu. Ada suara jejak kaki dibelakannya, dia mulai gemetar, jantungnya berdetak lebih cepat, dan pernapasannya menjadi lebih dalam dan pada saat yang sama dia merasa takut.[15]

c.       Teori Schachter-Singer
Menurut Teori ini, suatu peristiwa pertama menyebabkan rangsangan fisiologis, kemudian seseorang harus mengidentifikasi alasan untuk stimulus ini dan kemudian dia mendapat pengalaman yang disebut emosi. Contoh: ketika seseorang berjalan menyusuri lorang gelap larut malam dan dai mendengarkan sesuatu. Ada suara jejak kaki dibelakannya, dia mulai gemetar, jantungnya berdetak lebih cepat, dan pernapasannya menjadi lebih dalam. Setelah melihat ini rangsangan dia menyadari kenyataan bahwa dia berjalan menyusuri lorong gelap sendirian, perilaku ini berbahaya dan hal itu menyebabkan dia merasakan emosi takut.[16]

d.      Teori Lazarus
Teori Lazarus menyatakan bahwa pikiran harus datang sebelum emosi atau rangsangan fisiologis. Dengan kata lain, seseorang harus terlebih dahulu berfikir tentang situasi, sebelum dia mengalami emosi. Contoh: ketika seseorang berjalan menyusuri lorang gelap larut malam dan dai mendengarkan sesuatu. Ada suara jejak kaki dibelakannya, dan dia pikir mungkin perampok sehingga dia mulai gemetar, jantungnya berdetak lebih cepat, dan pernapasannya menjadi lebih dalam dan pada waktu takut pengalaman yang sama.[17]

3.      Macam-macam Perasaan
Perasaan pada umumnya dibagi dua, yakni perasaan senang dan perasaan tidak senang. Perasaan senang merupakan suasana hati yang cerah direspons oleh keadaan tubuh yang atraktif. Dinamika tubuh ketika menerima perasaan senang berbeda dengan ketika menerima perasaan tidak senang. Misalnya perasaan senang itu terlihat jelas pada anak sekolah yang berteriak-teriak kegirangan, berpesta ria ketika ujian akhir nasionalnya dinyatakan lulus. Perasaan tidak senang adalah suasana hatiyang menolak peristiwa yang berkaitan dengan dirinya yang jauh dari sesuatu yang diharapkan. Tidak senang adalah perasaan yang sama dengan perasaan senang jika dilihat dari alat yang meresponnya, yakni hati atau jiwa yang terdalam. Perasaan pun dapat memperlihatkan diri ke dalam bentuk perbuatan fisik yang dapat ditafsirkan oleh orang lain. Misalnya, murid yang tidak lulus, menjerit, menangis, merangkul ibunyam atau bahkan merobek ijazah.[18]

Menurut Palland dalam Roeslany Marliany, ada tiga golongan perasaan manusia yang merupakan gejalan kejiwaan, yaitu[19]:
a. Perasaan-perasaan yang aktual, yakni yang berhubungan dengan kejadian yang dihadapi sekaran, yang disebut dengan perasaan-perasaan present.
b.   Perasaan yang berhubunan dengan sesuatu yang belum terjadi, yakni harapan.
c.   Perasaan yang berhubungan dengan peristiwa masa lalu, semacam hantu yang menakutkan, sehingga sering dikatakan menghantui perasaan, misalnya perasaan merasa bersalah karena seorang suami tidak menemani istrinya yang melahirkan, kemudian sang istri meninggal dunia saat melahirkan.

4.      Bentuk-bentuk Emosi

Meskipun emosi itu sedemikian kompeksnya, namun Daniel Goleman dalam Muhammad Ali dan Muhammad Asrori mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, yaitu[20] :
a.    Amarah, di dalamnya meliputi brutal, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan, dan kebencian patologis.
b.     Kesedihan, di dalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi.
c.   Rasa takut, di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut sekali, sedih, waspada, tidak tenang, ngeri, panik dan fobia.
d.  Kenikmatan, di dalamnya meiputi bahagia, gembira, raing puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, terpesona, puas, rasa terpenuhi, girang, senang sekali, dan mania.
e.   Cinta, di dalamnya meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, dan kasih sayang.
f.       Terkejut, di dalamnya meliputi terkesiap, takjub, dan terpana.
g.      Jengkel, di dalamnya meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, dan mau muntah.
h.      Malu, di dalamnya meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.

5.      Pengaruh Emosi Terhadap Individu
Emosi merupakan perkembangan yang sempurna dari suatu pola tingkah laku individu. Emosi itu mempunyai banyak nilai kehidupan dan dapat bekerja bagi kegembiraannya atau bagi perlindungannya. Pribadi yang matang emosinya siap untuk mengontrol tingkah lakunya. Tetapi keputusan-keputusan yang diambilnya sendiri akan cenderung dikondisi oleh pengalaman-pengalaman emosionalnya. Berikut beberapa pengaruh emosi terhadap individu[21] :

a.      Pengaruh emosi terhadap tingkah laku
Perasaan takut, marah, kasih sayang, kegembiraan, rasa ingin tahu, dan cemburu berfungsi sebagai kekuatan-kekuatan pendorong. Mereka mendorong seorang individu menuju kegiatan konstruktif. Mereka berpartidipasi dalam bentuk-bentuk tingkah laku yang destruktif. Pemilihan kontrol terhadap tingkah laku. Karenanya, menjadi sangat penting selama terjadi pengalaman emosional. Akibat emosi terhadap tingkah laku individu berbeda-beda karena umur dan tingkat perkembangannya. Biasanya individu mengalami situasi-situasi yang memaksa  mereka mencapai kedewasaan. Perbuatan kontrol emosional soerang yang telah dewasa sangat beguna, tidak saja untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk setiap orang muda yang terpengaruh oleh contoh-contohnya. Emosi dapat dikontrol sedemikian rupa sehingga berperan melayani individu dan bukan merupakan tuannya.

b.      Pengaruh emosi terhadap keadaan jasmani
Emosi memberikan pengaruh besar pada perencanaan dan proses jasmani lainnya. Ketakutan yang berlebih-lebihan, kemarahan yang kuat dan kebimbangan yang dalam, dapat menimbulkan akibat-akibat yang merugikan kesehatan. Kelenjar-kelenjar pencernaan dalam mulut, dalam perut, dan dalam seluruh saluran pencernaan dipengaruhi oleh gangguan emosional. Biasanya suasanan-suasana emosi yang tenang dan menggembirakan akan menjadikan kelenjar-kelenajar pencernaan berfungsi dengan sebaik-baiknya.

c.       Pengeruh emosi pada fungsi-fungsi lainnya.
Biasanya gangguan bicara seperti gagap itu disebabkan gangguan emosi. Keadaan seperti itu sering terjadi pada masa-masa remaja. Pengaruh emosi marah merupakan sumber daru kesulitan bicara dan kelaian jasmaniah lainnya. Bila individu dibebaskan dari gangguan emosi, bicaranya relatif normal, tetapi bila seorang individu dalam keadaan emosi, maka akan menunjukkan penyimpangan cara berbicara.

BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
1.      Kata kepribadian atau personality dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Yunani kuno proposan atau persona yang artinya topeng yang biasa dipakai artis dalam teater. Kepribadian atau personality pada dasarnya merupakan karakteristik psikologis dan perilaku individu yang sifatnya relatif permanen (karena terbentuk oleh waktu yang cukup lama) yang membedakan satu individu dengan individu lainnya.
Ciri kepribadian adalah, bersifat umum, bersifat khas, berjangka lama, bersifat kesatuan, dapat berfungsi baik atau berfungsi buruk.
Kepribadian seseorang seperti yang kita lihat sekarang, tidaklah dibawa sejak lahir. Manusia adalah organisme yang pada waktu lainnya merupakan makhluk biologis, lalu berubah menjadi individu yang egonya selalu berkembang, struktur sifat-sifatnya meluas dan merupakan inti dari tujuan-tujuan dan aspirasi masa depan.
Tipe kepribadian seseorang dapat diketahui berdasarkan observasi terhadap pola perilaku yang ditampilkannya. Tipe kepribadian tersebut terdiri atas tipe dominant, inspiring, supportive, dan  cautious.
Tipe-tipe kepribadian antar lain, perfeksionis, penolong, pengejar prestasi, romantis, pengamat, pencemas, petualang, pejuang, pendamai.
2.   Istilah emosi kurang lebih dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang muncul dari organisme manusia. Emosi adalah suatu pengalaman yang sadar yang mempengaruhi kegiatan jasmani, yang menghasilkan penginderaan organis dan kenstetis dan ekspresi yang menampak, serta dorongan-dorongan dan suasana perasaan yang kuat.
Perasaan pada umumnya dibagi dua, yakni perasaan senang dan perasaan tidak senang. Perasaan senang merupakan suasana hati yang cerah direspons oleh keadaan tubuh yang atraktif. Perasaan tidak senang adalah suasana hatiyang menolak peristiwa yang berkaitan dengan dirinya yang jauh dari sesuatu yang diharapkan.
Bentuk-bentuk emosi antara lain, amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel,  malu.
Emosi merupakan perkembangan yang sempurna dari suatu pola tingkah laku individu. Emosi itu mempunyai banyak nilai kehidupan dan dapat bekerja bagi kegembiraannya atau bagi perlindungannya. Pribadi yang matang emosinya siap untuk mengontrol tingkah lakunya. Tetapi keputusan-keputusan yang diambilnya sendiri akan cenderung dikondisi oleh pengalaman-pengalaman emosionalnya. Emosi dapat berpengaruh terhadap tingkah laku, terhadap keadaan jasmani, dan pada fungsi-fungsi lainnya.

B.     Saran
1.      Dengan mengetahui defenisi dan konsep tentang kepribadian dan emosi diharapkan pembaca dapat menerapkannya di dalam dunia organisasi dan mampu menjadi individu yang berkarakter dan dapat memahami individu lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu, and M. Umar. Psikologi Umum. Surabaya: Bina Ilmu, 1992.
Ali, Muhammad, and Muhammad Asrori. Peikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik). Jakarta: Bumi Aksara, 2011.
M. Luddin, Abu Bakar. Psikologi Konseling. Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2011.
Marliany, Roesleny. Peikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia, 2010.
Sit, Marganti. Perkembangan Peserta Didik. Medan: Perdana Publishing, 2010.
Sule, Ernie Tisnawati, and Kurniawan Saefullah. Pengantar Manajemen. Jakarta: Kencana, 2010.


[1] Abu Bakar M. Luddin, Psikologi Konseling, (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2011), hal. 126.
[2] Ibid., 127-128.
[3] Ernie Tisnawati Sule dan Kurniawan Saefullah, Pengantar Manajemen, (Jakarta: Kencana 2010), hal. 219.
[4] Abu Bakar M. Luddin, Psikologi Konseling, (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2011), hal. 128-129.
[5] Ibid., hal. 129.
[6] Ibid., hal. 130.
[7] Ibid., hal. 131.
[8] Ibid., hal 132.
[9] Masganti Sit, Perkembangan Pesera Didik, (Medan: Perdana Publishing, 2010), hal. 50-54.
[10] Ibid., hal. 54.
[11] Rosleany Marliany,  Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hal. 221.
[12] Muhammad Ali dan Muhammad Asrori, Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik), (Jakart: Bumi Aksara, 2011), hal. 62.
[13] Abu Ahmadi dan M. Umar, Psikologi Umum, (Surabaya: Bina Ilmu, 1992), hal. 70.
[14] Masganti Sit, Perkembangan Pesera Didik, (Medan: Perdana Publishing, 2010), hal. 102.
[15] Ibid., hal. 103.
[16] Ibid.
[17] Ibid., hal. 104.
[18] Rosleany Marliany,  Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hal. 224.
[19] Ibid., hal. 224-225.
[20] Muhammad Ali dan Muhammad Asrori, Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik), (Jakart: Bumi Aksara, 2011), hal. 63.
[21] Abu Ahmadi dan M. Umar, Psikologi Umum, (Surabaya: Bina Ilmu, 1992), hal. 73-74.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar