Pages - Menu

Rabu, 17 April 2013

Konsep Dasar Pengambilan Keputusan


MAKALAH KONSEP DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN

BAB I
PENDAHULUAN

Setiap individu atau organisasi tidak akan terlepas dari masalah. Masalah pada dasarnya adalah penyimpangan atau ketidaksesuaian dari apa yang semestinya terjadi atau tercapai. Kesalahan dalam melakukan identifikasi masalah akan menyebabkan kesalahan dalam penyelesaiannya. Ada sebuah frase menyatakan bahwa, jika kita gagal dalam melakukan identifikasi masalah, maka sesungguhnya kita akan gagal dalam menyelesaikan masalah tersebut. Kesalahan identifikasi tersebut bisa disebabkan kita salah dalam menafsirkan gejala yang merupakan akibat dari masalah yang terjadi. Untuk dapat menyelesaikan masalah, maka perlu dilakukan proses penyelesaian masalah dari mulai mengumpulkan informasi yang terkait dengan gejala dan masalah yang dihadapi, hingga kepada penyelesaian masalah yang mungkin dapat dilakukan. Proses tersebut sering kali dinamakan sebagai proses penyelesaian masalah (problem solving).[1]

Penyelesaian masalah sering kali tidak mudah karena berbagai faktor yang terkait dengan masalah sering kali tidak berpola tunggal, baik yang terkait dengan faktor penyebab maupun alternatif penyelesaiannya. Tidak berpola tunggal artinya faktor penyebab dan alternatif penyelesaiannya bisa saja tidak satu. Pertanyaannya adalah alternatif mana yang akan dipilih. Jawaban atas pertanyaan terakhir membawa kita kepada sebuah teori dalam penyelesaian masalah yang sering kali dinamakan sebagai teori pengambilan keputusan. Alternatif yang mana yang akan kita pilih pada dasarnya mendorong kita untuk mengambil keputusan, karena keputusan harus diambil agar proses dapat terus berjalan.[2]

Boleh dikatakan bahwa setiap organisasi yang sukses harus mampu dan mau membuat keputusan yang memungkinkan organisasi mencapai sasaran dan mencapai kebutuhan utama anggota organisasi. Bagaimana pun seluruh aktivitas dan fungsi manajemen pada pokoknya memiliki esensi pengambilan keputusan. Sebab proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan semuanya mengandung konsep dan perilaku pengambilan keputusan. Dijelaskan oleh Adair dalam Susmaini dan Rifa’i, bahwa: the essence of management is decision making”. Artinya esensi yang sesungguhnya dari manajemen adalah pengambilan keputusan. Karena itu teori pengambilan keputusan perlu dipelajari dan dipahami oleh para manajer yang ingin berhasil dalam mengelola organisasi.[3]

Keputusan pada dasarnya merupakan proses memilih satu penyelesaian dari beberapa alternatif yang ada. Keputusan yang akan kita ambil tentunya perlu didukung berbagai faktor yang akan memberikan keyakinan kepada kita sebagai pengambil keputusan bahwa keputusan tersebut adalah tepat. Keputusan yang tepat pada dasarnya adalah keputusan yang bersifat rasional, sesuai dengan nurani, dan didukung oleh fakta-fakta yang akurat, sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Kadangkala keputusan dapat tidak bersifat rasional karena faktor-faktor yang terkait dengan emosi, hubungan antarmanusia, faktor tradisi, lingkungan, dan lain sebagainya. Sejauh keputusan tersebut dapat dipertanggungjawabkan, biasanya keputusan tetap akan diambil.[4]

Hemat pemakalah, pengambilan keputusan akan sangat menentukan keberhasilan suatu oragnisasi, karena keputusan apa pun yang akan diambil akan mengarahkan organisasi tersebut mengarah kepada keberhasilan, kurang berhasil, atau mungkin gagal. Oleh karena pentingnya pengambilan keputusan, maka perlu diberlakukan suatu pembahasan secara mendalam mengenai pengambilan keputusan yang akan kita ikuti dalam mata kuliah pengambilan keputusan, agar kita dapat memahami esensi dari pengambilan keputusan itu sendiri. Selain sebagai kewajiban tugas kelompok, makalah ini diperbuat bertujuan untuk memberi pemahaman kepada pembaca, agar mampu memahami konsep dasar pengambilan keputusan secara sederhana dan jelas.
 
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pengambilan Keputusan

Setiap pemimpin pasti bertanggungjawab terhadap masa depan organisasinya. Untuk itu tujuan yang telah ditetapkan harus dapat tercapai dengan berbagai aktivitas dan kebijakan. Salah satu yang harus dilakukan pemimpin dalam rangka pencapaian tujuan organisasi adalah pengambilan keputusan.

Untuk memberikan pemahaman tentang pengambilan keputusan, terlebih dahulu dikemukakan pengertian pengambilan keputusan. Menurut Robins dalam Mesiono pengambilan keputusan adalah : “decision making is a process in which one choose between two or more alternatives”. Pendapat ini menegaskan bahwa pengambilan keputusan sebagai proses memilih satu pilihan di antara dua atau lebih alternatif. Pengambilan keputusan adalah menetapkan pilihan atau alternatif secara nalar dan menghindari diri dari pilihan yang tidak rasional, tanpa alasan atau data yang kurang akurat. Davis dalam buku yang sama, mengemukakan suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab pertanyaan: tentang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan.

Menurut Mc. Farland decision : “a decision is anact of choice where in an executive froms a conclusion about what must or must not be done in a given situation”. (Keputusan adalah suatu tindakan pemilihan di mana pimpinan menentukan suatu kesimpulan tentang apa yang harus atau tidak harus dilakukan dalam situasi yang tertentu). Selain itu juga dapat dipahami bahwa pengambilan keputusan itu tidak terlepas dari upaya memilih alternatif-alternatif yang tepat untuk situasi tertentu dengan langkah-langkah tertentu pula.[5]

B.     Sifat Dasar Pengambilan Keputusan

Dalam situasi atau manajemen tertentu, suatu keputusan harus mendahului suatu atau semua pekerjaan. Dengan kata lain, rangkaian pengambilan keputusan merupakan pekerjaan yang pertama dan paling awal dari sebuah pelaksanaan pekerjaan suatu organisasi, kelompok, unit atau individu. Bagaimana pun sebuah pekerjaan dalam pelaksanaannya diawali dari keputusan. Dalam hal ini keputusanlah yang akan menentukan corak masa depan suatu organisasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keputusan akan tetap menjadi sebuah tindakan yang mendahului pelaksanaan pekerjaan sebab keputusan sebagai pangkal tolak semua kegiatan dan akan menentukan masa depan organisasi, baik berupa kemajuan, pengembangan atau mungkin saja kemunduran atau bangkrut akibat salah dalam mengambil keputusan. Meskipun penuh ketidakpastian, sebuah keputusan dibuat justru bersifat masa depan dan menjadi panduan dalam menentukan tindakan manajemen dan organisasi.[6] Dengan begitu, jelaslah bahwa pengambilan keputusan merupakan hal yang penting untuk dilakukan dalam hubungannya dengan organisasi. Dalam menentukan alternatif untuk menjadi sebuah keputusan dibutuhkan pertimbangan-pertimbangan sebelum jatuh pada sebuah keputusan. Pada kondisi inilah dibutuhkan ketajaman analisis terhadap masalah-masalah yang dihadapi. Sehingga pengambilan keputusan itu memberikan keuntungan-keuntungan dengan kemampuannya dalam memilih dan menetapkan alternatif.[7]

Salah satu tolak ukur utama yang biasa digunakan untuk mengukur efektivitas kepemimpinan seseorang yang menduduki jabatan pimpinan dalam dalam suatu organisasi ialah kemampuan dan kemahirannya mengambil keputusan. Sondang P. Siagian mengemukakan bahwa suatu keputusan dapat dikatakan sebagai keputusan yang baik apabila memenuhi empat persyaratan, yaitu rasionalis, logis, realistis, dan pragmatis. Pengalaman dan penelitian menunjukkan bahwa efektivitas demikian hanya mungkin dicapai apabila seorang pengambil keputusan mampu menggabungkan secara tepat tiga jenis pendekatan. Pertama, pendekatan yang didasarkan pada teori dan asas-asas ilmiah yang telah dikembangkan oleh para teoritisi yang mendalami proses pengambilan keputusan. Kedua, pendekatan yang memanfaatkan kemampuan berpikir kreatif, inovatif,, dan intuitif disertai keterlibatan emosional. Ketiga, kemampuan belajar dari pengalaman mengambil keputusan di masa lalu, baik karena keberhasilan maupun karena kegagalan.[8]

Banyak definisi mengenai pengambilan keputusan dalam organisasi. Winardi dalam Susmaini dan Rifa’i mengemukakan bahwa secara sederhana pengambilan keputusan adalah adanya kemungkinan pilihan antara dua macam tindakan alternatif. Ivancevic dan Matteson dalam buku yang sama, menyebutkan ada dua jenis keputusan, yaitu :
1.     Keputusan terpogram, yaitu jika pada situasi tertentu ada prosedur rutin yang biasanya bekerja dalam memecahkan masalah. Maka keputusan terpogram adalah untuk memperluas kemampuan organisasi dalam memecahkan masalah dengan adanya informasi yang mencukupi.
2.    Keputusan tidak terprogram, yaitu bila tidak ada cerita atau informasi tidak terstruktur. Tidak ada prosedur yang tersusun bagi menangani masalah, juga sebab tidak ada secara benar-benar sama masalah sebelumnya sehingga sangat rumit dan penting sekali.[9]

Keputusan terprogram secara sederhana dapat dikatakan, tindakan menjatuhkan pilihan yang berlangsung berulang kali, dan diambil secara rutin dalam organisasi. Keputusan terprogram biasanya menyangkut pemecahan masalah-masalah yang sifatnya teknis serta tidak memerlukan pengarahan dari tingkat manajemen yang lebih tinggi. Karena masalah yang hendak dipecahkan bersifat teknis, biasanya prosedur dan langkah-langkah yang perlu ditempuh telah dituangkan dalam buku pedoman, yang biasanya terdapat dalam organisasi yang dikelola secara rapi. Berbeda dengan keputusan terpogram, keputusan tidak terprogram biasanya diambil dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang baru yang belum pernah dialami sebelumnya, tidak bersifat repetitif, tidak terstruktur, dan sukar mengenali bentuk, hakikat dan dampaknya. Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan tidak terpogram biasanya tidak teknis sifatnya. Artinya tidak menyangkut hal-hal yang sifatnya operasional. Akan tetapi menyangkut kebijaksanaan organisasi dengan dampak yang strategis bagi eksistensi organisasi yang bersangkutan.[10]

Sering kurang disadari bahwa tugas utama dari seorang pemimpin adalah mengambil keputusan. Segala sesuatu yang terjadi dalam organisasi sebaiknya merupakan keputusan bersama yang diputuskan oleh pemimpin, bukan karena terjadi secara kebetulan. Dengan pengambilan keputusan yang tepat, segala pendadakan yang mungkin terjadi dapat dihindarkan atau dikurangi. Keputusan yang diambil oleh berbagai eselon pemimpin dalam organisasi tentu mempunyai bobot yang berbeda-beda. Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam organisasi, semakin besar kualitas keputusan yang diambilnya meskipun bobot keputusan tersebut sering bersifat umum. Setiap keputusan yang diambil, baik di tingkat manajemen puncak, tengah, maupun bawah memiliki beberapa syarat berikut:
1.      Keputusan yang diambil harus mempermudah dan mempercepat pencapaian tujuan.
2.    Keputusan harus tepat sehingga mampu memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh organisasi.
3.  Keputusan harus cepat diambil untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan terbaik yang terbuka untuk organisasi.
4.   Keputusan harus praktis, dalam arti dapat dilakukan sesuai dengan kekuatan-kekuatan yang dimiliki organisasi.
5.     Keputusan harus regional, dalam arti dapat diterima oleh akal sehat dari para pelaksana.[11]

C.    Dasar Pengambilan Keputusan

1.     Pengambilan Keputusan Berdasarkan Intuisi
Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi atau perasaan lebih bersifat subjektif yaitu mudah terkena sugesti, pengaruh luar, dan faktor kejiwaan lain. Sifat subjektif dari keputusuan intuitif ini terdapat beberapa keuntungan, yaitu : 1) Pengambilan keputusan oleh satu pihak sehingga mudah untuk memutuskan. 2) Keputusan intuitif  lebih tepat untuk masalah-masalah yang bersifat kemanusiaan.

Pengambilan keputusan yang berdasarkan intuisi membutuhkan waktu yang singkat Untuk masalah-masalah yang dampaknya terbatas, pada umumnya pengambilan keputusan yang bersifat intuitif akan memberikan kepuasan. Akan tetapi, pengambilan keputusan ini sulit diukur kebenarannya karena kesulitan mencari pembandingnya, dengan kata lain hal ini diakibatkan pengambilan keputusan intuitif  hanya diambil oleh satu pihak saja sehingga hal-hal yang lain sering diabaikan.

2.     Pengambilan Keputusan Rasional
Keputusan yang bersifat rasional  berkaitan dengan daya guna. Masalah – masalah yang dihadapi merupakan masalah yang memerlukan pemecahan rasional. Keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan rasional lebih bersifat objektif. Dalam masyarakat, keputusan yang rasional dapat diukur apabila kepuasan optimal masyarakat dapat terlaksana dalam batas-batas nilai masyarakat yang di akui saat itu. 

3.     Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta
Ada yang berpendapat bahwa sebaiknya pengambilan keputusan didukung oleh sejumlah fakta yang memadai. Sebenarnya istilah fakta perlu dikaitkan dengan istilah data dan informasi. Kumpulan fakta yang telah dikelompokkan secara sistematis dinamakan data. Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan dari data. Dengan demikinan, data harus diolah lebih dulu menjadi informasi yang kemudian dijadikan dasar pengambilan keputusan. Keputusan yang berdasarkan sejumlah fakta, data atau informasi yang cukup itu memang merupakan keputusan yang baik dan solid, namun untuk mendapatkan informasi yang cukup itu sangat sulit.

4.     Pengambilan Keputusan Berdasarkan Pengalaman
Sering kali terjadi bahwa sebelum mengambil keputusan, pimpinan mengingat-ingat apakah kasus seperti ini sebelumnya pernah terjadi. Pengingatan semacam itu biasanya ditelusuri melalui arsip-arsip pengambilan keputusan yang berupa dokumentasi pengalaman-pengalaman masa lampau. Jika ternyata permasalahan tersebut pernah terjadi sebelumnya, maka pimpinan tinggal melihat apakah permasalahan tersebut sama atau tidak dengan situasi dan kondisi saat ini. Jika masih sama kemudian dapat menerapkan cara yang sebelumnya itu untuk mengatasi masalah yang timbul. Dalam hal tersebut, pengalaman memang dapat dijadikan pedoman dalam menyelesaikan masalah. Keputusan yang berdasarkan pengalaman sangat bermanfaat bagi pengetahuan praktis. Pengalaman dan kemampuan untuk memperkirakan apa yang menjadi latar belakang masalah dan bagaimana arah penyelesaiannya sangat membantu dalam memudahkan pemecahan masalah.

5.     Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang
Banyak sekali keputusan yang diambil karena wewenang (authority) yang dimiliki. Setiap orang yang menjadi pimpinan organisasi mempunyai tugas dan wewenang untuk mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi yang efektif dan efisien. Keputusan yang berdasarkan wewenang memiliki beberapa keuntungan. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain : banyak diterimanya oleh bawahan, memiliki otentisitas (otentik), dan juga karena didasari wewenang yang resmi maka akan lebih permanent sifatnya. Keputusan yang berdasarkan pada wewenang semata maka akan menimbulkan sifat rutin dan mengasosiasikan dengan praktik diktatorial. Keputusan berdasarkan wewenang kadangkala oleh pembuat keputusan sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan justru menjadi kabur atau kurang jelas.

BAB III
PENUTUP

Pengambilan keputusan dalam tinjauan perilaku, mencerminkan karakter bagi seorang pemimpin. Oleh karena itu, untuk mengetahui apakah keputusan yang diambil baik atau buruk tidak hanya dinilai setelah konsekuensinya terjadi, melainkan melalui berbagai pertimbangan dalam prosesnya. Kegiatan pengambilan keputusan merupakan salah satu bentuk kepemimpinan, sehingga:
  • Teori keputusan adalah merupakan metodologi untuk menstrukturkan dan menganalisis situasi yang tidak pasti atau berisiko.
  • Pengambilan keputusan adalah proses mental di mana seorang manajer memperoleh dan menggunakan data dengan menanyakan hal lainnya, menggeser jawaban untuk menemukan informasi yang relevan dan menganalisis data; manajer secara individual dan dalam tim, mengatur dan mengawasi informasi.
  • Pengambilan keputusan adalah proses memilih di antara alternatif-alternatif tindakan untuk mengatasi masalah.
Dengan demikian, fokus pengambilan keputusan adalah pada kemampuan menganalisis situasi dengan memperoleh informasi seakurat mungking sehingga permasalahan dapat dituntaskan.[12]

DAFTAR PUSTAKA

Ernie T. S. dan Kurniawan S., Pengantar Manajemen, Jakarta: Kencana, 2010.
Susmaini dan Muhammad Rifa’i, Teori Manajemen Menuju Efektivitas Pengelolaan Organisasi, Bandung: Citapustaka Media, 2007.
Mesiono, Manajemen Organisasi, Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2012.
Sondang P. Siagian, Teori dan Praktek Pengambilan Keputusan¸ Jakarta: Toko Gunung Agung, 1987.
Khaerul Umam, Manajemen Organisasi, Bandung: Pustaka Setia, 2012.        
Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Jakarta: Rajawali Pers, 2011.

[1] Ernie T. S. dan Kurniawan S., Pengantar Manajemen, (Jakarta: Kencana, 2010), hal. 115.
[2] Ibid., hal. 116
[3] Susmaini dan Muhammad Rifa’i, Teori Manajemen Menuju Efektivitas Pengelolaan Organisasi, (Bandung: Citapustaka Media, 2007), hal. 143-144.
[4] Ernie T. S. dan Kurniawan S., Pengantar Manajemen, (Jakarta: Kencana, 2010), hal. 116.
[5] Mesiono, Manajemen Organisasi, (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2012), hal. 153-155.
[6] Susmaini dan Muhammad Rifa’i, Teori Manajemen Menuju Efektivitas Pengelolaan Organisasi, (Bandung: Citapustaka Media, 2007), hal. 146-147.
[7] Mesiono, Manajemen Organisasi, (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2012), hal. 153-155.
[8] Sondang P. Siagian, Teori dan Praktek Pengambilan Keputusan¸ (Jakarta: Toko Gunung Agung, 1987), hal. 1.
[9] Susmaini dan Muhammad Rifa’i, Teori Manajemen Menuju Efektivitas Pengelolaan Organisasi, (Bandung: Citapustaka Media, 2007), hal. 145-146.
[10] Sondang P. Siagian, Teori dan Praktek Pengambilan Keputusan¸ (Jakarta: Toko Gunung Agung, 1987), hal. 22-25.
[11] Khaerul Umam, Manajemen Organisasi, (Bandung: Pustaka Setia, 2012), hal. 141-142.   
[12] Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hal. 157-158.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar